“Waspadai NII, Awasi Ekskul Tertutup!”

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto menghimbau seluruh kepala suku dinas dan kepala sekolah tingkat SMA dan SMK/sederajat untuk lebih memantau aktivitas ekstrakurikuler yang sifatnya tertutup. Hal itu sebagai tindakan preventif gerakan-gerakan menyusup Negara Islam Indonesia (NII) di kalangan siswa.

Taufik mengaku khawatir, apabila pengawasan lemah, para siswa akan dimasuki paham-paham NII yang keliru.

“Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam ruangan-ruangan di tempat yang tidak terkontrol langsung perlu dipantau lebih jauh, baik di dalam atau di luar sekolah,” kata Taufik, Jumat (29/4/2011), usai rapat paripurna dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, di gedung DPRD, Jakarta.

Upaya pemantauan tersebut perlu dilakukan secara lebih intensif mengingat pergerakan NII sudah semakin menyebar di sekitar Jakarta. Polda Metro Jaya bahkan sudah memetakan 11 pusat pergerakan NII di Jakarta. Dari sebelas titik tersebut sebagian besar berada di daerah pinggiran atau suburban, seperti Jakarta Selatan, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Wilayah suburban dinilai lebih mudah dimasuki pemahaman NII karena warganya yang tidak sesibuk wilayah pusat kota. Taufik mengingatkan, di masa menjelang pengumuman nilai UN, ada rentang waktu yang sangat lama sehingga rawan bagi siswa terkena pergerakan NII.

“Oleh karena itu, penting juga bagi sekolah menyediakan tempat kegiatan ekstra yang sifatnya lebih terbuka,” tuturnya.

Selain itu, Taufik juga menegaskan, bahwa selalu perlu dilakukan lima aspek pendidikan di bidang intelektual, sosial, moral, mental, dan kecerdasan spiritual.

“Untuk mencapai aspek ini perlu dukungan dari masyarakat dan keluarga sehingga anak-anak kita tidak dengan mudah terkena pengaruh orang lain,” tandasnya.

Belakangan, kisah pergerakan NII kian marak diberitakan. Organisasi tersebut sengaja menargetkan kaum pelajar, baik mahasiswa maupun siswa SMA, untuk bergabung ke dalam organisasi itu.

Modus yang dilakukan biasanya dengan meminta orang untuk menjadi responden penelitian. Dari situ pelaku mulai menjalin komunikasi hingga pada pembicaraan seputar agama dengan memenggal ayat-ayat Al-Quran. Pelajar yang akhirnya masuk ke dalam organisasi itu pun kerap kali menghilang dari rumah, mencuri barang, hingga menarik diri dari pergaulan.

Posted on May 1, 2011, in News. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: