Etnografi: Apakah kita benar-benar bebas dari kepentingan ?

Ini perdebatan usang sebenarnya tapi tetap menarik untuk diulas ketika saya teringat tentang suatu obrolan tentang apa itu etnografi. Seperti kita pahami etnografi adalah suatu metode penelitian qualitative untuk dapat memahami suatu kebudayaan dari sudut pandang orang yang kita teliti. Etnografi sebagaimana dikatakan oleh Spradley bukanlah suatu pekerjaan yang hanya mendeskripsikan suatu kebudayaan semata, namun seperti Spradley yang mengutip kata-kata Malinowski bahwa sesungguhnya etnografi tidak hanya sekedar mendeskripsikan suatu masyarakat semata tetapi bagaimana memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya atas suatu kehidupan. Oleh karena itu tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari pada itu bagaimana kita dapat belajar dari masyarakat yang diteliti.

Lalu kemudian apa permasalahannya ?. Permasalahannya kemudian muncul ketika ternyata bahwa kenyataan obyektif seorang peneliti lalu dipertanyakan. Apakah seorang peneliti atau etnografer bisa benar-benar obyektif dalam memahami masyarakat yang ditelitinya ? . Pertanyaan ini muncul dari kawan saya ketika dia melihat bahwa seringkali seorang peneliti atau katakanlah antropolog yang secara terbuka atau tidak terbuka melakukan keberpihakan terhadap yang ditelitinya atau malah bahkan kemudian melakukan penilaian. Meskipun kita paham, seorang etnografer tidak punya hak untuk melakukan penilaian terhadap seorang yang ditelitinya. Sadar tidak sadar, suka atau tidak suka, kita melakukan itu. Teman saya mengatakan, bahwa seorang peneliti sosial haruslah netral- benar-benar bebas kepentingan. Saya kok jadi meragukannya. Benar kita bisa benar-benar bebas kepentingan ?

Saya kemudian jadi teringat dengan tulisan Edward Said, tentang orientalisme dan oksidentalisme. Bagaimana peneliti barat memandang dunia timur (orientalisme), pun sebaliknya, peneliti timur melihat barat (oksidentalisme). Bahwa sesungguhnya yang namanya netral atau bebas kepentingan adalah impossible. Ada pertarungan nilai dalam pertaruhan dominasi pengetahuan yang dibawah oleh seorang peneliti dalam melihat masyarakat yang ditelitinya.

Lalu bagaimana dengan etnografi sendiri..

Bukannya tidak ada kritik terhadap etnografi. Kritik utama terhadap etnografi ketika karya etnografi tersebut hanya memotret suatu kelompok atau golongan masyarakat dalam gambaran yang eksotis dan terkesan baik-baik saja. Suatu etnografi selayaknya mampu dapat memotret gejolak dinamika kehidupan, intrik, dan konflik-konflik yang ada dalam masyarakat itu. Dan disini posisi seorang peneliti atau etnografer tidaklah bisa benar-benar bebas dan lepas dari obyeknya. James Clifford (1988) sendiri dalam bukunya “The Predicament of Culture: twentieth-century ethnography, literature, and art” yang membahas tentang bagaimana sesungguhnya kekuatan etnografi itu sendiri, juga mengatakan bahwa permasalahan utama suatu karya etnografi adalah ketika ia hanya banyak menggambarkan suatu kelompok sukubangsa dalam kesan terpencil, eksotis dan seolah-olah terlepas dari realitanya .

Menurut Clifford suatu karya etnografi sebenarnya tidaklah benar-benar bisa murni memisahkan diri antara peneliti dan obyek penelitiannya. Sebagai suatu karya etnografi, ia tidak akan lepas dari ”siapa” yang mengungkapkannya, apa yang melatarbelakanginya menuliskan karya itu, dan dalam kepentingan apa ia menuliskan karya etnografi tersebut. Ia menunjukkan bahwa penggambaran kelompok masyarakat marjinal ada dalam ruang sejarah telah mengalami proses denifitif yang dibuat oleh peneliti barat. Para peneliti-peneliti barat tersebut membuat kesan masyarakat marjinal yang eksotis, terisolir, dan mempunyai kebudayaan yang stabil.

Lalu apa kemudian yang harus kita lakukan ?, Clifford menyarankan beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang antropolog untuk dapat memperkuat dan memperkaya suatu karya etnografi, antara lain dengan (1) penguatan visi dari aspek personality dari peneliti, dimana didalamnya terdapat aspek profesionalitas dan legalitas peneliti itu sendiri; (2) penguasaan bahasa setempat sebagai penghindaran perbedaan interpretasi antara peneliti dan informan; (3) sebuah etnografi haruslah ditandai dengan kemampuan dan kejelian dari peneliti untuk menemukan ciri-ciri budaya yang ada dalam kebudayaan sukubangsa yang ditelitinya, dan yang keempat (4) adalah kekuatan dari teori yang digunakan oleh peneliti guna membantu menusuk ke jantung permasalahan kebudayaan daripada hanya sekedar memberikan harapan-harapan kosong.

Jelasnya otoritas dan kualitas, serta profesionalitas peneliti yang jadi taruhannya. Tidak apa-apa menjadi berpihak dan tidak netral, namun dengan syarat yang jelas dan transparan..

Posted on May 25, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: