“Tradisi” Curang Ujian Nasional

Ujian Nasional (UN) utama 2011 tingkat SMA baru saja usai dilaksanakan. Namun berita-berita kecurangan tidak dapat dihindari juga. Seperti diakui sendiri oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh di sela-sela Muktamar NU ke-32 di Asrama Haji, Makassar, Sulsel. Untuk pelaksanaan UN 2010 ini pihak kemendiknas sudah menerima 472 pengaduan kecurangan UN di seluruh Indonesia (Republika Online, 25/3).

Itu baru laporan resmi yang diterima kemendiknas, bagaimana yang tidak terlapo?. Sepertinya “kecurangan” sudah menjadi tradisi dalam pelaksanaan UN selama ini.

Menghentikan kecurangan dalam setiap pelaksanaan UN sangat sulit dilakukan. Pertama, disebabkan faktor geografis negara kita yang sangat luas yang tidak memungkinkan terpantau secara efektif di seluruh pelosok negeri. Kedua, faktor ingin ”membantu” anak atau sanak keluar oknum pelaku curang yang sedang mengikuti UN. Dan kemudian ketiga adalah faktor ekonomi sebagaimana juga di akui oleh mendiknas Muhammad Nuh (Detiknews, 24/3) bahwa karena bocoran soal dibayar mahal.

Tradisi curang UN selama ini sangat merusak bukan hanya merusak sistem pendidikan Akan tetapi lebih luas lagi berimbas kepada akhlak dan perilaku anak didik. Padahal sebagaimana Al-Ghazali mengatakan anak-anak harus diajarkan menjadi orang yang jujur, sederhana, dermawan dan beradap. Tanpa kita sadari, praktek curang UN tereduksi dalam alam bawah sadar anak seakan-akan curang itu memang diperbolehkan.

Bagaimana kita membangun sebuah negara yang besar dengan fondasi kejujuran bila di sekolahan masih terjadi praktek curang. Memang kelihatannya sepele, tetapi akibatnya sungguh luar biasa bias dalam kehidupan. Sebagai contoh, seseorang tertinggal barang berharga seperti HP di WC atau terjatuh di jalanan, besar kemungkinan barang tersebut akan hilang. Tidak banyak orang yang mau mengembalikan HP yang tertinggal atau terjatuh itu padahal nama lengkap pemiliknya tertera jelas. Jangankan mengembalikan, secepatnya nomor HP pemilik segera digantikan.

Berbeda dengan cerita teman saya yang pernah magang kerja di Jepang, pada suatu ketika tasnya tertinggal di Taman umum, setelah cukup lama dia baru sadar ternyata tasnya tertinggal. Ternyata tas tersebut ditemukan seseorang dan dititipkan pada sebuah pos keamanan terdekat. Dia mendapat kembali tasnya itu dengan isi yang masih utuh dan lengkap termasuk barang berharga di dalamnya. Ternyata orang Jepang lebih jujur. Padahal hasil survei menunjukkan dari 4 hanya 1 orang Jepang yang percaya agama. Islam memandang kejujuran salah satu dasar utama dari agama dan kehidupan yang secara tegas dapat di baca Al-Quran Surat An-Nahl ayat 105. Mungkin dalam pendidikan dan keluarga kita saja yang kurang memperhatikan pembelajaran kejujuran ini. Nampaknya Pendidikan kita hanya mengejar angka-angka saja, kadang nilai-nilai luhur itu terlupakan.

Berkaitan dengan kualitas pendidikan kita. Bila UN tidak dapat dilakukan secara jujur, maka kita selalu menghasilkan angka-angka semu. UN menjadi tidak bermakna apa-apa untuk mengukur kualitas kelulusan. Akhirnya tidak ada suatu kebijakan yang dapat dilakukan secara tepat untuk memperbaiki kondisi pendidikan kita.

UN tanpa kecurangan akan menumbuhkan kepercayan diri para lulusan dan menjadi modal dasar untuk melewati ujian-ujian berikutnya. Karena mereka percaya bahwa apa yang diperoleh selama ini merupakan hasil kerja keras bukan bantuan orang lain. Dalam kehidupan, terbukti mereka yang memiliki kepercayaan diri tinggi akan lebih sukses dibandingkan dengan orang yang kepercayaan diri rendah. Selain itu, UN tanpa kecurangan akan menumbuhkan motivasi anak didik dalam belajar di sekolah.

Meskipun UN tetap kita kritik sebagai sebuah usaha yang sia-sia dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang krearif di masa mendatang. Tetapi tradisi kecurangan dalam UN bagaimanapun bentuknya harus dihentikan. Karena bila kondisi seperti itu terus dibiarkan terus menerus tanpa ada suatu kesadaran untuk memperbaikinya. Bagaimana wajah pendidikan kita di masa-masa yang akan datang. Kapan anak didik mampu memperlihatkan jati dirinya dan bersaing dengan orang-orang lain bila mental bersaing tidak kita pupuk sejak dibangku sekolah.

Saat ini bukan saatnya lagi bertanya kenapa Amerika dan negara-negara Eropa begitu maju dan menjadi pengendali dunia. Sebab mereka sudah jauh-jauh hari telah merubah sistem pendidikan dan pembelajaran dari paradiqma hanya menghafal pengetahuan kepada pendidikan yang dapat merangsang, menantang, dan menyenangkan, bahkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat “joy of discovery”. Whitehead (1916) adalah pemikir yang mempengaruhi gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika dan Eropa. Kata-katanya yang terkenal adalah orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna di bumi Tuhan (a merely well informed man is the most useless bore in God’s earth”). Karena Whitehead menekankan agar peserta didik sejak dini harus dapat menikmati proses penemuan.

Menciptakan suatu iklim pendidikan yang baik memang tidak semudah membalik dua telapak tangan. Itu perlu kerjasama semua pihak dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Guru bagaimanapun hebatnya tidak mampu melakukan apa-apa bila tidak ada dukungan dari semua pihak termasuk orang tua dan lingkungan. Dukungan orang tua dan lingkunganpun akan sangat membantu terwujudnya iklim pendidikan yang baik dan sehat. Hasil analisis kita di sekolah menunjukkan bahwa siswa yang memiliki dukungan orang tua yang baik dan berasal dari lingkungan yang mendukung pendidikan memiliki angka yang signifikan terhadap keberhasilan siswa tersebut. Bukan hanya prestasi belajar, tetapi juga prestasi lain seperti pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Pemerintah demikian pula, harus cukup jujur dan bijaksana melihat realitas yang ada. Kita berharap janganlah kebijakan hanya didasarkan pada laporan angka-angka kelulusan yang terus meningkat dari daerah-daerah. Kemudian menganggap UN adalah yang terbaik dan menjadi dasar untuk mempertahankannya tanpa mau mencari bentuk-bentuk evaluasi lain yang sesuai dengan paradigma pendidikan modern.

Saya pikir, semua tahu bahwa fenomena UN telah menyisakan sesuatu cerita yang tidak mengembirakan dalam praktek pendidikan kita. Guru juga merasa sangat kewalahan menghadapi fenomena itu. Bagaimana membuat iklim pembelajaran yang baik bila siswa cenderung menginginkan belajar secara instan untuk mencari tahu bagaimana cara menjawab soal-soal ujian. Lebih parah lagi mereka hanya terfokus pada pelajaran-pelajaran tertentu saja yang di-UN-kan. Sementara pelajaran lain yang tidak di-UN-kan dianggap hanya sebagai pelengkap penderita. Akibatnya guru tenggelam diantara lembaga-lembaga bimbingan belajar yang ada.

Padahal setiap kali mengikuti pelatihan-pelatihan, guru selalu dituntut untuk tidak hanya berperan sebagai pengajar saja, tetapi menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam meyelesaikan tugas-tugasnya. Meyediakan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide yang muncul dari siswa. Guru juga bertugas untuk merangsang siswa berfikir secara produktif, memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak.

Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi dan membentuk watak anak didik yang relevan dengan upaya menghadapi tantangan zaman. Ini berarti pendidikan haruslah bermakna sebagai proses pembudayaan, yaitu membudayakan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan bekerja dan beretos kerja, kemampuan meneliti dan mengembangkan IPTEK, dan membudayakan sikap mandiri, bertanggung jawab, demokratis, jujur, dan bermoral.

Itulah peran yang diharapkan dari pendidikan dalam membentuk karakter dan mental generasi muda agar dapat melakukan transformasi budaya. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri negara kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional yang beretika sesuai dengan perkembangan zaman. Maka itu, akankah kita nodai dengan perilaku ”curang” dalam setiap pelaksanaan Ujian Nasional?

Saat ini bukan saatnya lagi bertanya kenapa Amerika dan negara-negara Eropa begitu maju dan menjadi pengendali dunia. Sebab mereka sudah jauh-jauh hari telah merubah sistem pendidikan dan pembelajaran dari paradiqma hanya menghafal pengetahuan kepada pendidikan yang dapat merangsang, menantang, dan menyenangkan, bahkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat “joy of discovery”. Whitehead (1916) adalah pemikir yang mempengaruhi gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika dan Eropa. Kata-katanya yang terkenal adalah orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna di bumi Tuhan (a merely well informed man is the most useless bore in God’s earth”). Karena Whitehead menekankan agar peserta didik sejak dini harus dapat menikmati proses penemuan.

Menciptakan suatu iklim pendidikan yang baik memang tidak semudah membalik dua telapak tangan. Itu perlu kerjasama semua pihak dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Guru bagaimanapun hebatnya tidak mampu melakukan apa-apa bila tidak ada dukungan dari semua pihak termasuk orang tua dan lingkungan. Dukungan orang tua dan lingkunganpun akan sangat membantu terwujudnya iklim pendidikan yang baik dan sehat. Hasil analisis kita di sekolah menunjukkan bahwa siswa yang memiliki dukungan orang tua yang baik dan berasal dari lingkungan yang mendukung pendidikan memiliki angka yang signifikan terhadap keberhasilan siswa tersebut. Bukan hanya prestasi belajar, tetapi juga prestasi lain seperti pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Pemerintah demikian pula, harus cukup jujur dan bijaksana melihat realitas yang ada. Kita berharap janganlah kebijakan hanya didasarkan pada laporan angka-angka kelulusan yang terus meningkat dari daerah-daerah. Kemudian menganggap UN adalah yang terbaik dan menjadi dasar untuk mempertahankannya tanpa mau mencari bentuk-bentuk evaluasi lain yang sesuai dengan paradigma pendidikan modern.

Saya pikir, semua tahu bahwa fenomena UN telah menyisakan sesuatu cerita yang tidak mengembirakan dalam praktek pendidikan kita. Guru juga merasa sangat kewalahan menghadapi fenomena itu. Bagaimana membuat iklim pembelajaran yang baik bila siswa cenderung menginginkan belajar secara instan untuk mencari tahu bagaimana cara menjawab soal-soal ujian. Lebih parah lagi mereka hanya terfokus pada pelajaran-pelajaran tertentu saja yang di-UN-kan. Sementara pelajaran lain yang tidak di-UN-kan dianggap hanya sebagai pelengkap penderita. Akibatnya guru tenggelam diantara lembaga-lembaga bimbingan belajar yang ada.

Padahal setiap kali mengikuti pelatihan-pelatihan, guru selalu dituntut untuk tidak hanya berperan sebagai pengajar saja, tetapi menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam meyelesaikan tugas-tugasnya. Meyediakan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide yang muncul dari siswa. Guru juga bertugas untuk merangsang siswa berfikir secara produktif, memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak.

Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi dan membentuk watak anak didik yang relevan dengan upaya menghadapi tantangan zaman. Ini berarti pendidikan haruslah bermakna sebagai proses pembudayaan, yaitu membudayakan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan bekerja dan beretos kerja, kemampuan meneliti dan mengembangkan IPTEK, dan membudayakan sikap mandiri, bertanggung jawab, demokratis, jujur, dan bermoral.

Itulah peran yang diharapkan dari pendidikan dalam membentuk karakter dan mental generasi muda agar dapat melakukan transformasi budaya. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri negara kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional yang beretika sesuai dengan perkembangan zaman. Maka itu, akankah kita nodai dengan perilaku ”curang” dalam setiap pelaksanaan Ujian Nasional?

Posted on June 1, 2011, in artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: