Kuburan Massal Untuk Yang Gagal SNMPTN

Menjelang senja terjadi percakapan menarik antara saya dengan seorang kawan dosen. Bermula dari nasehatnya kepada saya supaya jangan pernah mencita-citakan diri menjadi dosen. Apalagi dosen rendahan yang gajinya pas-pasan. Kalau pun hendak menjadi dosen, rencanakan matang-matang kehidupan seperti apa yang akan dilalui ke depan. Contohnya dengan mempunyai rumah kontrakan sederhana dan anak sedikit. “Ini bukan berarti kita tidak percaya kepada Tuhan,” katanya. “Ini bukan berarti kita tak bersyukur. Ini hanya realitas yang sedang kita jalani di negeri terkutuk ini. Kalau kamu tidak tahan menjalani kehidupan dengan segala masalah ini, apalagi hanya menjadi seorang pengajar, gali saja kuburanmu sendiri.”

Menurutnya menjadi dosen rendahan itu pekerjaan gampang. Pergi pagi, pulang sore, dan siklus itu terus dijalani tanpa harus menghindarkan kebosanan. Di negara ini sistem pendidikan kita telah direkayasa sedemikian rupa agar mahasiswa-mahasiswa calon sarjana muda cuma berpikir bagaimana cepat lulus, meraih secarik kertas bernama ijasah, menyematkan gelar di belakang nama untuk pamer kepada calon mertua, atau calon bos di luar sana. Ya, mahasiswa cuma dibentuk pola pikirnya agar bagaimana lulus dan mendapatkan kerja yang syukur-syukur bisa bergaji tinggi.

“Sekarang ini tidak perlu susah payah memikirkan bagaimana memberikan nilai kepada para mahasiswa, mereka akan melakukan apa saja untuk menyuapmu agar diberikan nilai tinggi. Kalau kamu mau nakal sedikit bisa sesekali memanfaatkan mereka, tapi jika takut berdosa, ya ikuti saja kemauan mereka. Toh tidak ada yang menyalahkanmu jika mahasiswa-mahasiswa itu lulus dengan kualitas tak jauh dari anak SMA.”

“Entah dari mana sistem ini bermula, atau disebabkan oleh apa. Tetapi memang begitu sudah adanya kondisi di negara ini. Aneh ya, para pelajar itu ditakut-takuti dengan momok Ujian Nasional agar mereka lulus sekolah, dan didoktrin bahwa nilai bagus bisa masuk universitas bonafid, lalu dapat pekerjaan dengan jabatan tinggi. Padahal kalau mau bekerja, kenapa tidak masuk SMK atau perguruan tinggi setingkat D3 yang jelas-jelas tujuannya meraih pekerjaan.” jelasnya.

“Tapi biarkan saja sistem ini mau bagaimana nantinya, karena tidak ada baik dan buruk yang dihasilkan, orang seperti saya masih terus mengajar dan mengasihani mereka.”

Namun menurut saya, dia terlalu pragmatis dalam menilai para mahasiswa dan sistem perkuliahan di negara ini. Karena tidak semua mahasiswa ingin menjadi akademisi. Setiap mahasiswa mempunyai latar belakang masing-masing, dan yang paling berpengaruh untuk menentukan jalan kehidupan mereka, biasanya adalah faktor keluarga. Sehingga tidak ada salahnya mahasiswa berpikiran praktis dan sederhana tanpa menghiraukan persoalan akademis, apalagi bercita-cita ingin memajukan dunia keilmuan di negeri ini. Mereka cenderung memilih jurusan-jurusan praktis yang dapat memberikan prospek profesionalitas kelak, semacam dokter, ekonomi, teknik, penyiaran, manajemen, dan semacamnya. Walaupun di SMK atau perguruan tinggi setingkat D3 ada sebagian dari bidang tersebut telah dipelajari, tapi gelar yang diraih dalam jenjang S1 dapat menaikkan taraf hidup maupun jabatan yang akan mereka raih.

“Itulah realitas, untuk apa sesuatu yang sudah begini adanya terus disalah-salahkan.” kata saya mendebatnya.

“Karena tidak banyak, atau bahkan sedikit sekali mahasiswa saat ini yang berpikiran mengembangkan dunia keilmuan di negara ini. Maka seperti tadi yang saya bilang, menjadi dosen itu seperti berada di antara sisi menyenangkan dan menyedihkan. Di satu sisi kita tak perlu bersusah payah membolak-balik buku-buku, jurnal-jurnal, dan semacamnya yang dahulu kita pelajari. Kan sudah ada silabus, tinggal ikuti saja. Kemudian masuk kelas, kasih tugas, pulang ke rumah. Tugas dikumpulkan, walaupun kamu tahu tugas mahasiswa-mahasiswa itu hasil jiplak sana-sini. Kasih saja nilai B, selesai sudah. Akhir bulan dapat gaji.”

“Tapi bagaimana tanggung jawab sebagai pengajar untuk meningkatkan kualitas anak didik?” protes saya.

“Kamu ini lupa atau bagaimana sih. Dosen itu bukan guru, tugas kita cuma mengajar dan bukan mendidik seperti di sekolahan. Mereka mahasiswa itu orang-orang yang setara dengan kita. Secara agama berarti mereka sudah akil baligh. Sedangkan secara hukum negara, mereka sudah warga negara yang ber-KTP, dan tidak bisa dikatakan di bawah umur, artinya mereka bertanggung jawab atas diri mereka pribadi, dan mempunyai hak sebagai warga negara secara penuh, sama seperti kita. Kamu sendiri yang orang hukum masa lupa. Jadi apa perduli kita soal kualitas para mahasiswa itu.”

“Dengan kalimat lain kamu tidak merasa bertanggung jawab kalau setiap mahasiswamu lulus dengan nilai tinggi, tetapi tak berguna di masyarakat?”

“Ya iyalah. Toh saya sudah mengajar sesuai silabus, bahasa perusahaannya sesuai standar operasional. Kalau mahasiswanya yang tetap bego, jangan salahkan saya.”

“Itu yang sering  saya sebut dosen-dosen tidak bertanggung jawab. Cuma mengejar gelar agar mendapat kenaikan gaji.”

“Tidak bisa kita cap demikian, karena untuk menjadi seorang dosen pun diperlukan biaya pengeluaran yang tidak sedikit. Karena itu wajari saja jika dunia pendidikan di negeri ini tidak jauh berbeda dengan dunia politik, ada struktur-struktur tertentu yang menjadi cita-cita tersembunyi. Karena dengan meraih hal-hal tersebut akan meningkatkan penghasilan pribadi.”

“Secara tidak langsung kamu mau mengatakan bahwa para dosen dan pejabat struktural di lingkungan perguruan tinggi, turut melestarikan sistem yang kamu anggap terkutuk, begitu?”

“Saya coba gambarkan sama kamu ilustrasinya. Ambil contoh, saya dosen sastra Arab. Delapan tahun saya belajar bahasa Arab di pesantren, dari nahwu, sharaf, balaghah, sya’ir. Bahkan apa yang saya pelajari di pesantren justru tak terpakai ketika saya melanjutkan kuliah di Mesir. Ternyata bahasa tidak cuma bisa dilihat dari gramatikanya saja, namun juga dari faktor budaya berbahasa, kondisi geografis dan demografisnya, antropologi bahasanya. Akhirnya saya harus belajar dan belajar lagi selama puluhan tahun hanya untuk bahasa Arab. Namun ketika saya mengajar di negara ini, apa yang saya dapati. Apakah semua ilmu itu terpakai? Ternyata tidak, pelajaran yang harus saya ajari untuk mahasiswa S1 tak jauh beda dengan pelajaran dasar di pesantren. Apakah  lantas saya berkoar-koar soal peningkatan mutu atau kualitas. Saya tidak melakukan itu, begitu juga mahasiswa saya tidak menuntut hal lebih. Mereka butuh nilai semata agar dapat IPK tinggi yang nantinya entah prospek lulusan sastra Arab bisa menjadi apa di negara ini. Mereka tidak perduli, yang penting IPK tinggi agar bisa melamar kerja di mana saja, dan di bidang apa saja. Lalu apakah yang saya katakan di awal barusan adalah salah?”

Mendengar kalimat panjang lebarnya, saya teringat seorang mahasiswa semester akhir yang berkonsultasi mengenai skripsinya. Lalu saya tanya apakah dia sudah memelajari mata kuliah Metodologi Penelitian. Jawabnya sudah namun sama sekali dari referensi buku yang saya berikan termasuk istilah-istilah penelitian itu tidak ada yang dia kuasai. Akhirnya mahasiswa itu bilang, “udahlah Pak, ngapain sih sulit-sulit banget. Nanti juga nggak dibaca skripsi saya, cuma ditaruh di perpustakaan aja. Yang penting cepat lulus kan, soalnya kalau kelamaan kasihan orang tua saya. Mana semesteran naik terus lagi.”

Langsung saja lagu Warteg Boys terngiang di kepala, Oqelah qalo beqgitu. “Lihat saja contoh skripsi yang sudah ada di perpus, terus kamu ambil dikit-dikit atau ubah judulnya. Paling dosen Met-Lit kamu nge-lolosin proposal kamu.” pungkas saya.

Nampaknya memang ada benarnya apa yang dimaksudkan oleh kawan saya, bahwa tidak semua mahasiswa berpikiran sama dengan dosennya. Meskipun kadang di awal menjadi dosen, ada secercah idealitas keilmuan yang hendak dituju, namun keadaan atau sistem yang sudah terlestarikan dengan “baik” seperti ini yang menyebabkan visi misi itu luntur perlahan. Bahkan di jenjang lebih tinggi pun sama saja, banyak kandidat magister atau doktor yang masih berpola pikir sama seperti mahasiswa saya itu. Ingin cepat lulus, dapat gelar, naik pangkat, naik pula pendapatan bulanan, dan dapur di rumah tetap mengebul.

Kalau begitu, untuk apa anak-anak sekolahan dan para orang tua mereka begitu mendewakan hasil Ujian Nasional, mendapatkan nilai tinggi, lulus SNMPTN dengan pilihan Universitas dan jurusan bonafid. Kalau mau kerja dan sekedar mendapatkan uang, bikin usaha tenda warung makan di pinggir jalan pun sudah cukup. Atau kalau punya modal besar, tinggal buka perusahaan pribadi, justru lebih bisa menciptakan lahan pekerjaan dan menjaring orang-orang bergelar. Kalau mau agak prestis sedikit, bayar saja universitasnya sekian ratus juta agar mengeluarkan secarik lembar ijasah. Selesai semua, dan tidak akan memengaruhi dosen-dosen rendahan mirip kawan saya itu yang tetap masuk pagi, kasihan sana-sini, dan akhir bulan dapat gaji.

“Tapi kalau mengikuti alur pikiran kamu, lantas apa gunanya ujian SNMPTN ketika para calon mahasiswa yang lolos dan masuk perguruan tinggi negeri, juntrungannya jadi buruh-buruh juga. Berarti ijasah yang dihasilkan selama katakan empat tahun kuliah hanya sebagai persyaratan menuju perburuhan. Lalu ngapain mereka kuliah selama itu kalau ada jalan lain menghasilkan uang selain berkuliah?”

“Nah itu yang saya persoalkan, apakah dunia keilmuan di negeri kita hanya mencetak calon buruh atau mesin pencetak uang, atau justru ada hal lain di samping itu. Tanyakan saja pada dirimu pribadi.”

Sekalian saja kita usulkan ke pemerintah agar memersiapkan kuburan massal untuk calon-calon mahasiswa yang gagal SNMPTN. Yang lulus aja jadi buruh apalagi yang gagal.

Sebelum percakapan berakhir, dan terpaksa saya akhiri, dia kembali berceramah, “Kamu tahu, di Timur Tengah sana sastra Arab tak pernah habis dikupas. Pemikir-pemikir baru, ahli-ahli baru terus bermunculan dan berhasil turut andil melengkapi khazanah pemikiran klasik. Bahkan bentuk gramatika bahasa Arab mulai diperbaharui seiring perkembangan zaman. Dan saya pikir hal ini juga berlaku di semua bidang keilmuan, termasuk hukum. Terlebih ilmu-ilmu sains. Tetapi mengapa selalu di sana (entah di belahan dunia mana pun), dan bukan di sini? Kamu tahu jawabannya?”

Pertanyaannya kujawab dengan klise, “Mungkin karena bangsa ini belum mampu bersaing.”

“Saya sendiri tidak tahu jawabannya, tetapi alasan klise seperti kamu tadi kalau terus dipakai sebagai jawaban paling rasional. Saya yakin sampai sepuluh generasi ke depan pun kita akan tetap seperti ini menjadi bangsa pengekor, pengoret ampas, dan pemulung sampah. Naasnya, generasi kita akan jadi bahan cercaan oleh generasi mendatang, dituding sebagai penyebab segala kekisruhan. Namun sisi baiknya kita ini sudah bau tanah, takkan sempat menyaksikan momen di kala mereka marah-marah.” ujarnya seraya mengekeh tertawa.

Posted on June 1, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: