METODE PENELITIAN ETNOMETODOLOGI

Pendahuluan

Metodologi adalah persoalan penting dalam ilmu pengetahuan atau sains. Untuk memperoleh pengetahuan yang sistematis, setiap peneliti bahkan ilmuwan membutuhkan metodologi. Metodologi merupakan cara-cara yang ditetapkan dengan logika tertentu untuk melihat realitas atau fenomena oleh para ilmuwan. Ada dua metodologi penelitian yang pokok dalam ilmu-ilmu sosial yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Secara epistemologis, kuantitatif adalah turunan dari positivisme. Positivisme merupakan sebuah paham dalam ilmu pengetahuan dan filsafat yang berasumsi bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang didasarkan pada fakta-fakta positif yang diperoleh melalui proses penginderaan.

Pendekatan kuantitatif sangat menekankan pada objektivisme dan penggunaan alat bantu statistik. Sementara pendekatan kualitatif menekankan pada subjektivisme. Pendekatan kualitatif seperti yang diutarakan Bogdan dan Tylor adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukkan setting dan individu-individu dalam setting itu secara keseluruhan, individu dalam batasan yang sangat holistic (Furchan, 1992). Jane Richie mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai upaya untuk menyajian dunia sosial, dan perspektifperspektif di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang diteli. Sementara Moleong (2004) membatasi penelitian kualitatif sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Membahas tipe-tipe penelitian sebenarnya dapat memunculkan perdebatan, karena buku yang satu dengan buku yang lain memberikan penggolongan yang berbedabeda mengenai tipe penelitian. Ada penulis yang tampaknya menyamakan tipe dengan metode-metode. Palys (1992) misalnya, menggolongkan tipe-tipe penelitian dalam :

1) metode-metode kontak langsung (misalnya wawancara, diskusi, penggunaan alat-alat projeksi)

2) metode-metode observasional

3) metode unobtrusive(tidak reaktif) dan arsip (misalnya studi hasil karya, catatan harian, dan bentuk-bentuk peninggalan lain).

Sementara itu, ada penulis yang mengartikan tipe penelitian sebagai ‘desain’. Punch (1998) misalnya, menggolongkan dalam desain penelitian kualitatif, studi kasus, etnografi dan grounded theory. Sementara itu Denzin dan Lincoln (1994) tampaknya memahami tipe-tipe penelitian dari sifat dan/atau pendekatan penelitian, misalnya dengan membagi tipe-tipe penelitian dalam antara lain, studi kasus; etnografi dan observasi partisipatif; fenomenologi, etnometodologi, praktekpraktek interpretif, metode biografi, dan penelitian klinis. Beberapa buku lain tampaknya menggolongkan ‘tipe-tipe’ penelitian dari tujuan khususnya. Dalam hal ini, metode metode yang ada dapat dipakai dalam tipe tipe penelitian yang berbeda. Yang dipentingkan adalah bahwa metode-metodeyang dipilih akan membantu tercapainya tujuan khusus dari penelitian.

 

Pengertian dan Konsep Etnometodologi

Neuman (1997) mengartikan etnometodologi sebagai keseluruhan penemuan, metode, teori, suatu pandangan dunia. Pandangan etnometodologi berasal dari kehidupan. Etnometodologi berusaha memaparkan realitas pada tingkatan yang melebihi sosiologi, dan ini menjadikannya berbeda banyak dari sosiologi dan psikologi. Etnometodologi memiliki batasan sebagai kajian akal sehat, yakni kajian dari observasi penciptaan yang digunakan terus-menerus dalam interaksi sosial dengan lingkungan yang sewajarnya. Secara terminology, etnometodologi

diterjemahkan sebagai sebuah metode pengorganisasian masyarakat dengan melihat beberapa aspek kebutuhan, diantaranya: pencerahan dan pemberdayaan. Etnometodologi bukanlah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk pada permasalahan apa yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari, metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari. Etnometodologi didasarkan pada ide bahwa kegiatan sehari-hari dan interaksi sosial yang sifatnya rutin, dan umum, mungkin dilakukan melalui berbagai bentuk keahlian, pekerjaan praktis, dan asumsi-asumsi tertentu. Keahlian, pekerjaan praktis, dan asumsiasumsi itulah yang disebut dalam etnometodologi.

Tujuan utama etnometodologi adalah untuk mempelajari bagaimana anggota masyarakat selama berlangsungnya interaksi sosial, membuat sense of indexical expression. Istilah indexical tidak bermakna universal namun bergantung pada konteks (misalnya, ia, dia, mereka). Sifatnya terbatas pada yang diindeks atau dirujuk Subjek etnometodologi bukanlah anggota-anggota suku-suku terasing, melainkan orang-orang dalam perbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnometodologi berusaha memahami bagaimana orang-orang mulai melihat, menerangkan, dan menguraikan keteraturan dunia di tempat mereka hidup.Pemanfaatan metode ini lebih dilatari oleh pemikiran praktis (practical reasoning) ketimbang oleh kemanfaatan logika formal (formal logic).

Etnometodologi ditakrifkan sebagai kajian mengenai pengetahuan, aneka ragam prosedur dan pertimbangan yang dapat dimengerti oleh anggota masyarakat biasa. Masyarakat seperti ini bisa mencari jalan dan bisa bertindak dalam keadaan dimana mereka bisa menemukan dirinya sendiri (Ritzer, 1996).

 

Sejarah Metode Etnometodologi

Metode etnometodologi lahir pada masa modernis atau zaman keemasan perkembangan penelitian kualitatif. Pada masa itu terjadi proses formalisasi pendekatan kualitatif dan pertumbuhan jenis metode interpretif yang baru. Disamping adanya semangat untuk menyuarakan masyarakat kelas bawah, para cendekiawan di masa itu juga kembali kepada mazhab Chicago untuk mencocokkan argumentasi tentang validitas internal dan eksternal. Zaman keemasan ini memiliki arti dalam mewujudkan keyakinan pada kekuatan masyarakat dan bertahan pada gagasangagasan emansipatoris.

Dalam studi etnometodologi, cukup sederhana cara melihat validitas, karena biasanya disini tidak digunakan cara-cara konvensional dalam mengukur suatu konsep. Sebagai contoh etnometodologi melihat konsep alienasi lebih mendekati teknik grounded theory, misalnya dengan cara mengobservasi peraturan-peraturan yang bias diamati dari luar, kemudian memberinya lebel atau identitas tertentu. Sementara reliabilitas dapat dilihat dari hasil pembandingannya dengan metode lain yang sejenis. Oleh sebab itu, disini sangat bergantung pada kekuatan interpretasi peneliti terhadap masalah sosial yang sedang dihadapinya. Namun karena masalah yang sama dilihat dari segi metode yang berbeda, maka hasilnya pun relatif tidak akan sama (berbeda pula). Kesalahan yang bisa dan sering muncul adalah pada kasus-kasus yang

bersifat ambigu (mendua arti), atau kasus yang mempunyai peluang ditafsirkan berbeda-beda.

 

Harold Garfinkel dipertengahan tahun 1950-an, memperkenalkan istilah etnometodologi dalam bidang penelitian sosial yang merupakan inspirasi atas kreasi dari sosiologi fenomenologi. Garfinkel disaat awal memunculkan atau mengembangkan studi ini sedang mendalami fenomenologi Alfred Schutz pada New School For Social Research. Terdapat dugaan kuat bahwa fenomenologi Schutz sangat mempengaruhi etnometodologi Grafinkel. Ini terbukti dari asumsi sekaligus pendirian dari etnometodologi itu sendiri. Bagi Schutz, dunia sehari-hari merupakan dunia inter subjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi.

Dunia inter subjektif itu sendiri terdiri dari realitasrealitas yang sangat berganda dimana realitas sehari-hari tampil sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan perhatian pada dunia sehari-hari yang merupakan common sense. Realitas seperti inilah yang diterima secara taken for granted dimana mengesampingkan keragu-raguan, kecuali realitas yang dipermasalahkan. Pembahasan realitas common sense Schutz ini member Garfinkel suatu perspektif melaksanakan

studi etnometodologi sekaligus sebagai dasar teoritis bagi riset-riset etnometodologi lainnya. Yang dimaksud realitas sosial oleh Schutz adalah “keseluruhan objek dan kejadian-kejadian di dunia kultural dan sosial, yang dihidupkan oleh pikiran umum manusia yang hidup bersama dengan sejumlah hubungan interaksi. Itu adalah dunia objek kultural dan institusi sosial di mana kita semua lahir, saling mengenal, berhubungan sejak permulaan, kita, para aktor di atas panggung sosial, menjalani dunia sebagai suatu dunia budaya sekaligus dunia alam, bukan sebagai suatu dunia pribadi, tetapi dunia antar subjektif, artinya sebagai suatu dunia yang umum untuk kita semua yang dibentangkan dihadapan kita atau yang secara potensial dapat dinikmati oleh siapa saja dari kita; dan ini berimplikasi pada komunikasi dan bahasa”.

Sementara pengaruh Parsons dalam etnometodologi adalah teori aksi/tindakan yang diperkenalkan oleh Parsons. Dalam teori tindakannya, Parson berpendapat bahwa motivasi yang mendorong suatu tindakan individu selalu berdasarkan pada aturan atau norma yang ada dalam masyarakat dimana seorang individu hidup. Motivasi actor tersebut menyatu dengan model model normatif yang ditetapkan dalam sebuah masyarakat yang ditujukan untuk mempertahankan stabilitas sosial itu sendiri. Asumsi Parsons ini senada dengan pendirian etnometodologi, terutama dari Garfinkel dan Douglas yang mengatakan bahwa seseorang di dalam menetapkan sesuatu apakah tindakan/perilaku, bahasa, respon atau reaksi selalu didasarkan pada apa yang sudah diterima sebagai suatu kebenaran bersama dalam masyarakat (common sense). Istilah etnometodologi menjadi populer ditahun 1960 sampai dengan 1970-an dan sekarang semakin meluas diterima sebagai metode ilmiah. Para peneliti dari aliran ini mulai memperlihatkan praktik interpretif guna membuktikan bahwa objektivitas dunia dicapai dan dikelola secara lokal dengan merujuk kepada sumber daya sosial secara luas (sosial dan kultural) yang menghubungkan apa yang disebut oleh Garfinkel sebagai ‘seni’ dengan struktur interpretif yang sudah mapan. Garfinkel sendiri adalah dosen pada UCLA di West Coast. Sesudah Grafinkel muncullah beberapa pakar yang mengembangkan studi etnometodologi diantaranya Jack Douglas, Egon Bittner, Aaron Cicourel, Roy Turner, Don Zimmerman dan D. Lawrence Wieder.

Dalam prakteknya, etnometodologi Grafinkel menekankan pada kekuatan atau pendengaran dan eksperimen melalui simulasi. Pengamatan atau pendengaran digunakan Grafinkel ketika melakukan penelitian pada sebuah toko. Sementara itu, Jack Douglas menggunakan etnometodolgi untuk menyelidiki proses yang digunakan para koroner (pegawai yang memeriksa sebab musabab kematian seseorang untuk menentukan suatu kematian sebagai akibat bunuh diri. Douglas mencatat bahwa untuk menentukan hal itu, koroner harus menggunakan pengertian akal sehat yaitu apa yang diketahui oleh setiap orang tentang alasan orang bunuh diri sebagai dasar menetapkan adanya unsur kesengajaan (Furchan, 1992).

Etnometodologi tidak diartikan sebagai metode yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data, tetapi lebih tertuju pada bagaimana memilih pokok permasalahan yang akan diteliti. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Harold Garfinkel, bahwa istilah etnometodologi dijumpainya ketika ia mempelajari arsip lintas budaya di Yale yang memuat kata-kata seperti etnobotani, etnofisika, etnomusik, dan etnoastronomi. Itu mempunyai arti bagaimana para warga suatu kelompok tertentu (biasanya kelompok suku yang terdapat di arsip Yale) memahami, menggunakan, dan menata segi-segi lingkungan mereka. Dalam Hal etnobotani, subjek atau pokok kajiannya adalah tanaman.

Dengan demikian etnometodologi berarti studi tentang bagaimana individu-individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka, cara mereka menyelesaikan pekerjaan di dalam hidup setiap harinya. Garfinkel sendiri mendefinisikan etnometodologi sebagai penyeledikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari praktek-praktek kehidupan sehari-hari yang terorganisir.

Pekerjaan etnometodologi menurut Garfinkel(1967) studi tentang bagaimana orang-orang sebagai pendukung dari tatanan yang lazim menggunakan sifat-sifat tatanan itu untuk agar bagi para warga dapat terjadi ciri-ciri terorganisasi yang kelihatan nyata. Para ahli etnometodologi berupaya bagaimana cara orang memandang, menjelaskan, dan memberikan tatanan di dunia tempat hidupnya. Etnometodologi telah berhasil mengajak peneliti menjadi peka terhadap isu, yaitu penelitian itu sendiri bukan upaya ilmiah yang khas, tetapi lebih dilihat sebagai suatu pencapaian kerja yang praktis (Bogdan dan Biklen, 1990). Etnometodologi tidak bermakna ‘metode penelitian untuk mengumpulkan data’. Etnometodologi adalah kajian terhadap proses yang dilakukan oleh individu-individu manusia untuk membangun dan memahami kehidupannya sehari-hari.

Subjek kajian etnometodologi bukanlah suku-suku terasing, tetapi orang-orang biasa yang kita temui sehari-hari. Etnometodologi meneliti hal-hal kecil dan sepele yang ‘hidup’ di masyarakat. Kaum peneliti etnometodologi bahkan percaya bahwa penelitian itu sendiri tidak harus berarti kegiatan ilmiah yang sangat unik, tetapi bisa juga dilakukan untuk hal-hal praktis dan urusan sehari-hari. Etnometodologi menekankan dan mengakui fakta bahwa masyarakat awam (lay public) mencoba mengakui penjelasan sosial seperti yang dilakukan oleh ilmuwan. Lebih lanjut akal sehat mencoba menjelaskan bahwa anggota masyarakat membuat dan menjalankan rasa sosial (kesetiakawanan sosial) secara terus menerus.

Metode etnometodologi memiliki warna kajian yang berbeda dibanding metode kualitatif yang lain. Bertolak dari tradisi fenomenologis, yaitu social phenomenology yang dikembangkan Schultz, etnometodologi kemudian mengembangkan diri melalui jalur analitik dari hukum-hukum dasar, kemudian mengalami pengayaan diberbagai konstruksi, yang meliputi analisis percakapan dan kaidah interpretif.

 

Fokus Kajian Etnometodologi

Di dalam etnometodologi, peneliti yang ‘berasal dari luar’ harus dapat bersatu dan terlibat langsung dalam proses penelitian bersama-sama dengan ‘para aktor social setempat’. Peneliti harus bisa melebur di dalam komunitas masyarakat yang diteliti, dan karenannya harus sanggup berada bersama-sama dengan masyarakat yang diteliti dalam satu bejana sosial yang kompleks. Hal yang lebih ditekankan dalam etnometodologi adalah peristiwa terjadi secara wajar di masyarakat. Dalam peristiwa itu berlangsung pola interaksi yang dapat dibaca dan diinterpretasi secara eksplisit. Pola interaksi yang dimaksud adalah interaksi orang-perorang (aktor sosial) dan interaksi antara orang dengan lingkungannya (institusi dan alam). Peneliti dan para actor sosial akan terlibat didalam interaksi dan diskusi yang intens untuk merumuskan masalah yang dihadapi.

Realitas sosial dihasilkan ‘dari dalam’ melalui prosedur interpretif para anggotanya. Kondisi sosial para anggota bersifat selfgenerating. Sifat ini menunjukkan dua sifat penting dari arti yang berhasil diungkap oleh peneliti. Pertama, arti sebelumnya yang bersifat indeks, yaitu arti yang tergantung pada koteks. Dalam arti, objek dan kejadian memiliki arti yang ambigu atau tidak tentu, tanpa konteks yang jelas. Hanya melalui penggunaannya yang bergantung pada situasi di dalam percakapan dan interaksi, abjek dan kejadian menjadi berarti secara konkrit. Kedua, kondisi-kondisi yang memberikan konteks bagi arti itu sendiri bersifat selfgenerating. Kegiatan-kegiatan interpretif berlangsung secara simultan di dalam dan di sekitar setting yang menjadi orientasinya dan yang dideskripsikannya. Jadi, realitas yang dicapai secara sosial bersifat reflektif.

Laporan deskriptif mengenai setting tersebut secara simultan dibentuk oleh setting yang

dibentuknya (Denzin & Lincoln, 1994). Peneliti dan aktor sosial (nara sumber) harus berada dalam kedudukan setara, melakukan tukar-menukar pengalaman (vis a vis), interaksi sosial yang intens (interpretive coparticipants), dan memiliki hak yang sama (termasuk hak untuk berbeda pendapat). Proses pencapaian kesepakatan di antara keduanya dilakukan secara kompromi, masing-masing menggunakan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang berada dibaliknya dan arti yang dimengerti bersama.

Dengan cara demikian, masyarakat local akan lebih memahami kebutuhannya (sense

of order), sehingga rencana pengembangan masyarakat sangat ditentukan oleh akumulasi wacana mereka. Peneliti dalam etnometodologi tampaknya akan menjadi sosok partisan yang baik, penulis yang jujur, dan fasilitator yang bersahabat. Logika akademis yang dimiliki peneliti dalam etnometodologi akan diuji dengan pengalaman antarsubjek dalam proses dialog sehingga logika akademis akan berbaur dengan common sense masyarakat lokal. Metode etnometodologi menyiratkan sejumlah harapan yang wajar. Sekalipun metode ini tidak memiliki hubungan langsung dengan pembangunan teori baru, tetapi cara kerjanya dalam mengupas peran actor sosial akan cukup menyibak kekenyalan data sosial. Cara para aktor social menjalankan tugasnya dapat menjelaskan tempat mereka hidup: belajar menghadapi masalah, memilih alternatif, dan melaksanakan pilihannya secara konsisten.

Dalam metode etnometodologi, data dalam penelitian sosial adalah berupa tindakan actor sosial yang meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit atau dalam bentuk verbal yang lengkap, akan tetapi tetap diakui dan dapat dikerjakan (percakapan melalui telepon, gelak tawa, tepuk tangan, pernyataan interaktif sampai pada formulasi ucapan).

Sementara itu dikenal lima prinsip dalam menganalisis percakapan menurut Zimmerman (1978), yakni:

1) Pengumpulan dan analisis data yang sangat rinci tentang percakapan

2) Aspek-aspek kecil percakapan tidak hanya diatur oleh ahli etnometodologi akan tetapi pada mulanya oleh aktor sendiri

3) Interaksi dan percakapan bersifat stabil dan teratur. Peneliti bersifat otonom, terpisah dari actor

4) Kerangka percakapan fundamental adalah organisasi yang teratur

5) Rangkaian interaksi percakapan dikelola atas dasar tempat atau bergiliran.

Secara metodologis, analisis percakapan berupaya mempelajari percakapan dalam dalam konteks yang wajar, sering menggunakan alat perekam. Asumsi dasar analisis percakapan terdiri dari:

1) Percakapan adalah landasan dari bentuk bentuk hubungan antar personal

2) Merupakan bentuk interaksi yang paling mudah meresap; dan

3) Percakapan terdiri dari matriks prosedur dan praktik komunikasi yang paling terorganisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan sehingga dalam etnometodologi bahasa diguakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dalam perkembangannya, focus kajian etnometodologi beragam perilaku kehidupan sehari-hari, oleh karena itu muncul banyak jenis kajian lanjutan sesuai dengan disiplin ilmu itu sendiri.

Ritzer (1996) menggambarkan sejumlah variasi kerja etnometodologi.

1) Studi etnometodologi berlatar belakang analisis institutional (studies of institutional setting). Studi etnometodologi yang pertama kali dilakukan terjadi dalam setting ‘sambil lalu’ dan non-institutional, seperti di rumah. Kemudian, studi etnometodologi berkembang untuk mempelajari praktik-praktik keseharian dalam setting institutional yang lebih luas, seperti di pengadilan, klinik medis dan kantor polisi. Tujuan studi semacam ini untuk memahami cara masyarakat dalam setting tersebut melakukan tugas-tugas resminya dalam proses pembentukan institusi; dan

2) Studi etnometodologi menaruh perhatian pada analisis percakapan (conversation analysis), dengan tujuan untuk memahami secara detail struktur fundamental dari interaksi percakapan. Ritzer (1996) merangkum dasar-dasar analisis percakapan ke dalam lima premis, yaitu:

a. Analisis percakapan mensyaratkan adanya kumpulan dan analisis data yang detail. Data ini tidak hanya meliputi kata-kata tetapi juga keraguraguan, desah nafas, sedu sedan, gelak tawa, perilaku non verbal dan berbagai aktivitas lain. Semua itu menggambarkan perbuatan percakapan aktor yang terlibat;

b. Detail percakapan harus dianggap sebagai suatu prestasi. Aspek-aspek percakapan tidak diatur oleh etnometodologi, tetapi oleh aktivitas metodis dari para aktor itu sendiri;

c. Interaksi umumnya dan percakapan khususnya mempunyai sifat-sifat yang stabil dan teratur hingga keberhasilan para actor akan dilibatkan;

d. Landasan fundamental dari percakapan adalah organisasi yang sequential; dan

e. Keterikatannya dengan interaksi percakapan diatur dengan dasar lokal atau dengan bergilir.

Secara umum dapat dibedakan tiga pendekatan dasar dalam memperoleh data kualitatif melalui wawancara:

1. Wawancara informal, yakni proses wawancara didasarkan sepenuhnya pada berkembangnya pertanyaan-pertanyaan secara spontan dalam interaksi alamiah. Tipe wawancara demikian umumnya dilakukan peneliti yang melakukan observasi partisipatif. Dalam situasi demikian, orang-orang yang diajak berbicara mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai secara sistematis untuk menggali data:

2. Wawancara dengan pedoman umum, yakni dalam proses wawancara ini, peneliti dilengkapi pedoman wawancara(interview guide) yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian, peneliti harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara konkrit dalam kalimat tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. Wawancara dengan pedoman sangat umum ini dapat berbentuk wawancara terfokus, yakni wawancara yang mengarahkan pembicaraan pada halhal/ aspek-aspek tertentu dari kehidupan/pengalaman subjek. Tetapi wawancara juga dapat berbentuk wawancara mendalam, dimana peneliti mengajukan pertanyaan mengenai berbagai segi kehidupan subjek, secara utuh dan mendalam;

3. Wawancara dengan pedoman terstandar yang terbuka, yakni dalam bentuk wawancara ini, pedoman wawancara ditulis secara rinci, lengkap dengan set pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat. Peneliti diharapkan dapat melaksanakan wawancara sesuai sekuensi yang tercantum, serta menanyakannya dengan cara yang sama pada narasumber yang berbeda. Keluwesan dalam mendalami jawaban terbatas, tergantung pada sifat wawancara dan keterampilan peneliti. Bentuk ini akan efektif dilakukan bila peneliti melibatkan banyak pewawancara, sehingga peneliti perlu mengadministrasikan upaya-upaya tertentu untuk meminimalkan variasi, sekaligus mengambil langkahlangkah menyeragamkan pendekatan terhadap narasumber(Patton, 1990).

Etnometodologi memiliki beberapa asumsi yang dapat diterangkan dari perspektif kajian (McQuarie, 1995), sebagai berikut:

(1) Terjadinya asas reciprocal (bolak-balik) dalam rangka menyetarakan pengertian antara peneliti dan aktor social yang terlibat, sehingga dapat dikatakan ‘bahwa kebenaran yang dianut seseorang adalah kebenaran yang dianut oleh orang lain’

(2) Objektivitas dan ketidakraguan dari apa yang tampak, misalnya dunia atau lingkungan atau kenyataan, adalah yang tampak terjadi; dan keraguan terhadap kenyataan tersebut patut untuk diragukan

(3) Adanya proses yang sama. Dalam arti, bilamana sesuatu hal terjadi di suatu tempat di suatu waktu, maka hal tersebut akan dapat terjadi pada tempat dan waktu lain

(4) Adanya proses indexicality, yaitu ‘daftar istilah’. Masyarakat memiliki perbendaharaan pengetahuan lokal yang telah diketahui sebelumnya dan dapat mengacu kepada indeks lain yang juga telah ada . Peneliti harus memahami proses tersebut untuk dapat memiliki pengetahuan lebih luas

(5) Adanya proses reflectifity, sebagai ‘gambaran tentang arti’, atau suatu interpretasi terhadap situasi yang terdapat secara umum sehingga tidak perlu didefinisikan. Untuk mengatakan seseorang itu ‘bersalah’ atau ‘lugu’, maka harus diturunkan dari pengertian umum ke pengertian khusus mengenai apa yang dimaksud. Namun, sesungguhnya peneliti tidak pernah melihat kebenaran itu, kecuali hanya melihat tentang kebenaran tersebut atau berkenaan dengan kebenaran tersebut.

Untuk mendapatkan kebenaran, peneliti seharusnya tidak diperkenankan sampai ‘memaksa’ masyarakat. Adanya jeda yang harus diperhitungkan, misalnya ketika aktor sosial merasa ‘lelah’ atau menjurus kepenampilan emosi. Oleh sebab itu, dalam menggali informasi, peneliti tidak diperkenankan memaksakan kepada nara sumber untuk mendapatkan pembuktian yang jelas. Ungkapan permintaan maaf peneliti adalah suatu keputusan yang bijak. Peneliti harus mengerti semua itu apa adanya, dan tidak memaksa untuk mendapatkan informasi yang jelas yang justru dapat menimbulkan akibat tidak validnya data. Praktik etnometodologi dengan masyarakat sebagai bidang kajian memiliki implikasi yang bersumber dari keterbatasan sifat manusia itu sendiri, seperti:

a. Perihal eksistensi masyarakat. Jika tidak ada pertanyaan mengenai realitas yang dibentuk bersama, maka sebenarnya masyarakat dibentuk bersama melalui emosi

b. Keterbatasan pengetahuan tentang manusia akan menimbulkan tindakan atau pemikiran yang mengurangi kesulitan yang berkaitan dengan indexicality (daftar istilah) dan reflectivity (gambaran tentang arti). Akibatnya, kenyataan selalu diasumsikan dalam keadaan normal

c. Masalah kelemahan atau keterbatasan pengetahuan manusia dapat diatasi dengan tindakan pemilihan yang rasional, pertukaran, interaksi simbolik, dan sebagainya. Oleh karena itu, etnometodologi merupakan kritik yang cukup tajam dalam ilmu pengetahuan. Di sini, tindakan yang dilakukan merupakan pemikiran yang didasarkan pada pengetahuan ‘terbatas’ itu (Salim, 2006).

 

Etnometodologi Sebagai Metode Penelitian Kualitatif.

Beberapa prasyarat untuk menjadikan etnometodologi sebagai model penelitian kualitatif:

1. Etnometodologi memusatkan kajian pada realitas yang memiliki penafsiran praktis. Ia merupakan pendekatan pada sifat kemanusiaan yang meliputi pemaknaan pada perilaku nyata. Setiap masyarakat dalam konsep ini memiliki situasi yang bersifat lokal, terorganisir, memiliki steriotipe dan ideologi khusus, termasuk ras, kelas social dan gender. Pendekatan ini akan memihak masyarakat bawah dengan ideologi yang sangat populis

2. Merupakan strategi yang dapat dilakukan melalui discourse analysis (analisis wacana). Paradigma yang dianut adalah semiotic, sehingga metode yang paling tepat adalah dialog. Sumber data dapat diungkap melalui observasi-observasi dengan pencatatan data yang teratur menggunakan field note. Pengembangan pertanyaan dilakukan dengan betuk verbal, social interaktif dan dialog

3. Etnometodologi memiliki keunggulan dalam mendekati kehidupan empiric, dalam hal ini ada program penekanan yang diberikan. Melakukan pengambilan data langsung dari lapangan melalui model interaktif antara peneliti dan actor

4. Sosial (observasi partisipasi)

5. Menitikberatkan pada pemahaman diri dan pengalaman hidup sehari-hari. Pengambilan data dengan indepth interview, akan menggali semua masalah kehidupan sehari-hari dalam bentuk wawancara percakapan terbuka. Setiap wacana percakapan dianalisis, dikembangkan sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat lokal.

No

Unsure

Pelaksanaan Kegiatan

1 Paradigma Semiotic: wacana percakapan

harus bermula dari kepentingan

masyarakat lokal. Masalah sosial

tumbuh dari bawah yang harus

mencerminkan kehidupan

sehari-hari.

2 Strategi

Kegiatan

Discourse Analysis: dilakukan

diskusi intensif dengan aktor

lokal. Peneliti harus bersatu

dengan aktor sosial, upaya ini

dilakukan untuk dapat

memahami jenis, bentuk

percakapan hingga dapat

diketahui strukturnya.

3 Pengumpulan Data In-Depth

Interview/Conversation

4 Fokus

Penelitian

Kontekstual (tergantung pada

konteks masalah lokal)

5 Perkiraan

Kasus

Tergantung pada masalah

penelitian, jumlah kasus

disesuaikan dengan sifat, jenis

dan karakter masalah.

 

Keunggulan dan Kelemahan Etnometodologi

Dalam penggunaan metode etnometodologi dijumpai beberapa keunggulan dibandingkan metode lainnya, diantaranya :

1) Longitudinal: sebagai suatu metode observasi yang sedang berlangsung, etnometodologi dapat merekam perubahanperubahan apa yang terjadi, dan tidak harus menyandarkan diri pada ingatan partisipan seperti rekaman dalam penelitian survey cross sectional.

2) Baik prilaku nonverbal maupun verbal, keduanya dipelajari oleh etnometodologi.

3) Etnometodologi memberikan satu pemahaman tentang bagaimana narasumber menyadari atau merasa benar-benar dalam keadaan sadar dan mengerti terhadap daftar pertanyaan yang ada dan bagaimana mereka menjawabnya. Penelitian ini memberikan bukti yang bermanfaat bagi peneliti dalam menganalisis ‘tidak ada respons’ seperti sering dialami oleh penelitian survey

4) Etnometodologi memberikan satu pemahaman tentang kekonsistenan reliabilitas yang terkadang didapat lewat koder-koder (penyandi) yang mengikuti aturan akal sehatnya.

Disamping memiliki keunggulan, etnometodologi memiliki kelemahan diantaranya:

1) Produk: Etnometodologi bukan merupakan pilihan yang baik untuk meneliti dan mempelajari produk-produk sosial. Misalnya dalam melakukan penelitian tidak seharusnya meneliti tentang sikap etnis tertentu dengan menggunakan etnometodologi, meskipun bias menggunakannya untuk mempelajari proses terjadinya atau berasalnya sikap tadi.

2) Studi dalam skala luas: Sikap masyarakat dalam skala luas lebih cocok diteliti dengan menggunakan metode survey dibandingkan dengan etnometodologi. Disamping itu, memang sikap adalah produk yang hanya baik jika diteliti dengan menggunakan metode penelitian survey, atau metode lain yang bukan etnometodologi

 

Kesimpulan

Kemunculan metode etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional yang dianggapnya mengekang kebebasan peneliti. Peneliti konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori proposisi dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas di dalam memahami kenyataan social menurut situasi dimana kenyataan social tersebut berlangsung. Etnometodologi ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat, yaitu sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometodologi adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehari-hari.

Tujuan studi institusional etnometodologi adalah memahami cara orang, dalam setting institusional, melaksanakan tugas kantor mereka dan proses yang terjadi dalam institusi tersebut. Studi ini memusatkan perhatian pada strukturnya, aturan formal, dan prosedur resmi untuk menerangkan apa yang dilakukan orang di dalamnya. Dalam hal ini orang menggunakan prosedur yang berguna bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk menghasilkan produk institusi. Sementara itu, analisis percakapan bertujuan untuk memahami secara rinci struktur fundamental interaksi melalui percakapan. Percakapan sebagai unsur dasar dalam etnometodologi adalah aktivitas interaksi yang menunjukkan aktivitas yang stabil dan teratur yang merupakan kegiatan yang dapat dianalisis. Sasaran analisis percakapan adalah terbatas pada apa yang dikatakan dalam percakapan itu sendiri. Percakapan dipandang sebagai tatanan internal sekuensial. Tradisi etnometodologi , yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mengorganisasi dan memahami kegiatan mereka.

Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Furchan, Arief, 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional.

 

Irawan, Prasetya, 2006. Penelitian Kualitatif & Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Depok: Departemen Ilmu Administrasi, FISIP UI.

 

Moleong, Lexy J, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

 

Rosdakarya. Salim, Agus, 2006. Teori & Paradigma : Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Posted on June 21, 2011, in artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: